TAMU KECIL


Di sore hari, ketika matahari akan mulai tenggelam di balik pagar rumah, terdengar suara lembut yang sudah semakin akrab di telinga: “Miaww…”

Pada awalnya, aku tidak terlalu memperhatikan. Karena di perumahan kecil seperti disini, suara kucing berkeliaran adalah hal yang sudah biasa. Namun pada suatu hari, suara itu terdengar sangat dekat, seolah datang dari balik pintu depan rumahku.

Setengah penasaran aku membuka pintu, dan benar saja seekor kucing kecil berwarna hitam putih dengan mata bulat putih menatapku. Tubuhnya terlihat kurus, ekornya panjang dan sedikit mengembang karena takut, tetapi dia tetap berdiri tegak, seolah sedang mengumpulkan keberanian.
“Kamu lapar, ya?” tanyaku pelan, meski aku sadar ia tak akan menjawab.
Dengan sedikit gemetar, kucing itu akhirnya melangkah mendekat kearahku. Akhirnya aku pun melangkah ke dapur dan mencarikan makanan. Kupotongkan sedikit ikan goreng sisa dari makan siang, dengan segera kucing itu memakannya dengan lahap. Dari caranya makan, terlihat jelas kalau kucing ini sangat kelaparan.

Sehingga aku ambilkan lagi sisa ikan goreng kupotong kecil-kecil dan dicampur dengan sedikit nasi.
Sejak saat itu, kucing kecil berwarna hitam putih itu menjadi tamu tetap di rumahku.

Hampir setiap sore menjelang jam lima, ia selalu muncul di teras rumah. Terkadang hanya duduk sambil menjilati bulu, terkadang menggulung tubuhnya di atas keset. Jika aku tidak membuka pintu, dengan kaki kecilnya ia seperti mengetuk-ngetuk pintu, seakan memanggil penghuni rumah!


Karena sering datangnya kucing ini kerumah akhirnya aku memberikan nama panggilan Si Belang.
Semuanya bermula dari Si Belang yang mendatangi rumah dan aku memberikan sedikit makanan. Tetapi seiring berjalannya hari, perlahan aku mulai merasakan kalau kehadiran Si Belang ini membawa suasana baru yang menyenangkan. Karena sebelumnya aku tidak pernah memiliki hewan peliharaan.
Saat membersihkan rumah di pagi hari,
aku melihatnya tidur di pojok halaman dan itu sangat sering. Seakan-akan rumahku adalah tempat yang paling aman untuk ia tinggali. Terkadang ia masuk kerumah ketika pintu kubiarkan terbuka, lalu ia mengeong pelan, mungkin seakan bertanya, “Bolehkah aku tinggal disini?”.
Tetapi seiring berjalannya waktu tanpa disadari Si Belang ini membuatku seperti orang yang sedang belajar menjadi pemilik kucing.Terkadang ia mengelus-eluskan kepalanya ke kakiku, kadang ia hanya duduk sambil memandangku cukup lama,
seperti ia merasa sangat senang ketika bersamaku. Dan anehnya lagi, ketika aku melihat tatapannya pun membuatku merasa senang juga.
Suatu hari, hujan turun dengan deras. Angin kencang menggoyangkan daun-daun mangga di halaman rumah, suasana diluar menjadi gelap dan dingin.
Pada cuaca seperti itu, biasanya Si Belang akan datang lebih cepat untuk berteduh. Tetapi kali ini, aku tidak melihat ia datang kerumah.
Aku mencoba untuk tidak memikirkan nya dan mengerjakan sesuatu, tapi pikiranku terus melayang ke luar. Sesekali aku keluar membuka pintu teras, dan memanggilnya. Namun tidak ada jawaban,
tidak ada kulihat kepala Si Belang yang biasa menyembul dari balik pagar ketika kupanggil.
Menjelang maghrib, hujan mulai mereda dan menjadi gerimis.
Di tengah suara tetesan air yang jatuh dari talang, sayup-sayup aku mendengar sesuatu, seperti suara kucing mengeong.
Aku pun keluar mencari darimana sumber suara itu. Dan benar saja, di balik pohon mangga, di sela-sela akarnya yang cukup besar  Si Belang menggulung tubuhnya yang basah kuyup.
Dengan cepat aku mendekat dan memanggilnya, namun ia tidak menyahut bahkan tidak bangun.
Hanya terlihat membuka mata sebentar, kemudian menutupnya lagi.
“Belang… kamu kenapa?”
Aku mengangkat tubuh kecilnya yang terasa dingin dan basah, kemudian membawanya ke dalam.
Aku menutupinya dengan handuk kecil, supaya tubuhnya kering dan hangat.
Si Belang mengeong dengan kondisi yang lemas dan suaranya terdengar sangat pelan. Ia tidak makan malam itu.
Tubuhnya terlihat terengah-engah kecil, seolah sedang berjuang mengumpulkan tenaga dan akhirnya tertidur.
Aku duduk di sampingnya, mengusap perlahan kepala mungilnya dengan kain kering. Saat aku melihat ia hanya bisa terbaring lemas dibalik handuk. Seperti ada sesuatu yang membuat dadaku tidak terasa enak.
Mulai hari itu, aku menyadari sesuatu: kalau tamu kecil yang sedang ku rawat ini,  sudah menjadi bagian dari hidupku.
Keesokan paginya, Si Belang terlihat sedikit lebih baik. Ia membuka matanya dan menatapku dengan sayu.
Ketika aku memanggilnya ia menyahut meski dengan suara yang masih terdengar pelan. Aku memberinya makan ikan goreng yang sudah kupotong menjadi kecil. Dengan kaki yang terlihat bergetar ia mencoba berdiri dan mulai memakannya.
Terlihat nafsu makannya kembali meski masih pelan.
Ia terdengar kembali mengeong saat melihatku mendekat, wajahnya sedikit lebih ceria dibanding sebelumnya.
Aku merasa lega dan senang karena melihat kondisi Si Belang yang mulai membaik.
Mulai saat itu, aku menjadi lebih perhatian.
Setelah kondisinya pulih ia kadang berlari-lari mengikuti kemana aku melangkah, kadang ia hanya duduk-duduk disudut rumah.
Akhirnya, aku belikan sebuah kotak kardus dan makanan kucing di warung yang tidak jauh dari rumah. Didalam kotak kardusnya aku beri kain lembut. Aku taruh di sudut teras rumah.
Awalnya, ia terlihat hanya mengendus-endus kotak kardus itu. Tapi lama-kelamaan, ia mulai bermain dan sering tidur di sana, apalagi ketika cuaca diluar sedang hujan.
Hingga mungkin ia menyadari kalau kotak kardus itu memang disediakan untuk ia beristirahat.
Pak Yodi, Tetangga sebelahku, pernah lewat dan melihat Si Belang berlari-lari dan tidur di teras rumahku.
“Wah, kucingnya sering mampir kemari, ya?” katanya sambil tersenyum.
“Iya, Pak. Padahal bukan kucing saya.”
“Kalau sudah sering datang begitu, biasanya dia sudah menganggap rumah ini rumahnya.”
"Hhe" Aku tertawa kecil, meski sebenarnya kata-kata Pak Yodi itu membuat hatiku merasa senang.
Seiring berjalannya waktu. Hubunganku dengan Si Belang semakin dekat.
Ia mulai berani berguling-guling seolah mengajak bermain dan meminta dielus.
Kemudian perlahan-lahan ia mulai mengikutiku, ketika menyapu halaman atau menyiram tanaman. Bahkan, ketika aku akan berangkat kerja ia seperti mengantar kepergianku hingga keluar dari pagar rumah.


Suatu hari aku pulang malam karena pekerjaan. Sesampainya di depan pagar rumah terlihat Belang duduk di teras seperti menunggu aku pulang. Ketika aku membuka pintu pagar ia dengan cepat berlari mendekat ke arahku dan mengelus-elus kakiku dengan kepalanya, lalu mengeong pelan, sepertinya dia memang menunggu aku pulang.
Beberapa bulan kemudian, Si Belang pun tumbuh menjadi kucing besar yang lincah. Ternyata ia adalah kucing jantan. Suatu waktu di siang hari aku tidak melihat ia ada di teras atau pun di kotak kardusnya. Aku mencari dan memanggil-manggilnya namun, tidak ada sahutan dari Si Belang. Pikirku mungkin ia sedang bermain keluar. Ternyata benar, menjelang sore hari ia datang kerumah. Belang kamu darimana? Ia pun menyahut dengan mengeong pelan. Beberapa minggu berlalu Si Belang cukup sering keluar rumah disiang hari dan kembali sore hari. Suatu waktu ketika aku libur kerja aku merasa penasaran kemanakah Si Belang sering pergi. Siang itu aku mengikutinya keluar. Ia berhenti di sebuah pohon beringin yang rindang, disana aku melihat kucing lain berwarna abu-abu. Ternyata itu adalah temannya Si Belang, mereka terlihat asyik bermain dan berlari-lari dibawah pohon.
Setelah tahu kemana Si Belang sering pergi, aku pun segera kembali ke rumah. Sesampainya dirumah aku membersihkan  kotak kardus yang ditempati Si Belang setelah bersih tidak lupa aku mengisi tempat makannya. Sore hari Si Belang kembali ke rumah, tapi ternyata ia tidak sendiri, ada kucing abu-abu yang tadi siang aku lihat bermain dengan Si Belang di bawah pohon beringin. Belang apa itu teman kamu? Ia pun hanya mengeong dan mengelus-eluskan kepalanya seolah mengiyakan, kalau begitu ajak saja kemari.
Tetapi ia hanya menunggu di balik pagar mungkin karena takut. Akhirnya aku menghampiri kucing abu itu yang diam dibalik pagar. Kamu temannya Si Belang ya? Ia sedikit menjaga jarak dan mengeong kecil. Dengan cepat Si Belang pun mengikuti dan mendekati kucing itu. Mereka saling mengelus, aku tidak tahu apakah kucing abu itu ada pemiliknya? tetapi ia sangat akrab dengan Si Belang. Aku pun membuka pagar rumah cukup lebar dan mengajak mereka masuk. Dengan agak ragu-ragu kucing abu itu pun masuk hingga ke teras. Ia kemudian mulai mengendus kotak kardus yang di tempati Si Belang, sesekali masuk dan keluar lagi. Aku pun mengeluarkan tempat makan Si Belang yang sudah ku isi dan memberikannya. Si Belang pun berjalan menghampirinya dan mulai makan sambil mengeong seolah mengajak kucing abu itu untuk makan bersama, akhirnya kucing abu itu ikut makan bersama. Sepertinya mereka terlihat lapar. Hari menjelang malam kucing abu ini masih ada di teras.
Pikirku kucing ini memang tidak ada pemiliknya, aku pun membiarkannya bersama Si Belang.
Keesokan paginya saat aku akan memberi makan Si Belang ternyata, kucing abu itu tidur bersama dengan Si Belang di dalam kotak kardus. Aku pun mendekatinya, ia terlihat mengeong saat kuperhatikan perut kucing abu ini sedikit lebih besar dari Si Belang. Pikirku apakah kucing ini sedang hamil? Ternyata, semakin ku perhatikan kucing abu ini adalah betina dan sedang hamil. Aku bertanya kepada Si Belang, apakah dia sedang mengandung anakmu? Si Belang hanya mengeong dan mengelus-elus seperti biasanya.

Aku pun mencoba mengelus kucing abu yang ada di dalam kotak, awalnya ia sedikit takut dan mengeong ketika aku mengulurkan tangan ke kepalanya namun lama-lama ia menyadari kalo aku tidak membahayakannya. Aku mengelus-elus nya, ketika ku sentuh bagian perutnya terasa ada sesuatu dibalik bulunya beberapa gumpalan kecil seperti bergerak-gerak. Aku terdiam. "Kamu.. hamil ya?"
Kucing abu itu hanya menjawab dengan mengeong, lalu mulai menggosokkan kepalanya ke tanganku.
Rasanya seperti menerima kabar bahwa  tamu kecil yang seperti kemarin baru datang kini ia membawa pasangannya… dan akan menghadirkan tamu-tamu kecil lainnya. Sepertinya rumah ini akan menjadi ramai...
Hari-hari berikutnya, kucing abu itu menjadi penghuni di rumah bersama Si Belang. Aku memberikan nama panggilan
"Si Kelabu" pada kucing itu. Semakin hari perut Si Kelabu menjadi lebih besar. Aku mulai mencarikan kotak kardus yang lebih besar, mengisinya dengan kain lembut. Takut kalau-kalau Si Kelambu akan melahirkan. Malam harinya Si Belang menghampiri dan terlihat manja. Ia sering meminta dielus dan sering tiduran disampingku. "Kamu akan menjadi ayah ya?" Tanyaku kepada Si Belang, ia kemudian mengeong seolah mengiyakan pertanyaanku.

Pada suatu malam yang sunyi, aku mendengar Si Kelabu seperti merintih kecil dari teras rumah. Ketika aku membuka pintu teras aku menengok ke dalam kotak tempat tinggal Si Belang dan Si Kelabu. Terlihat Si Kelabu sedang meringkuk nafasnya terdengar cukup cepat dan matanya seperti setengah terpejam. Sedangkan Si Belang terlihat duduk dan masih membuka mata di samping Si Kelabu, seolah sedang menjaganya.
Pikirku apakah ia akan segera melahirkan?
Dan benar saja.
Subuh harinya yang masih tampak gelap dan sunyi, terdengar suara-suara kecil dari teras rumah. Aku pun segera membuka pintu teras dan mendekati kotak kardus dimana suara itu berasal. Ketika kulihat kedalam kotak telah lahir tiga anak kucing, tubuh mereka mungil, buta dan bergerak-gerak mencari kehangatan ibunya.
Sambil terbaring Si Kelabu menjilati mereka satu per satu, meski tubuhnya masih tampak sangat lelah.
Aku duduk di samping kotak, kemudian mengulurkan tangan mengusap punggung Si Kelabu dengan lembut.
“Terima kasih sudah menjadi ibu dari anak-anak Si Belang,” bisikku.
Si Kelabu mengangkat kepalanya, menatapku dengan mata yang tampak damai. Sambil mengeong pelan, penuh kelembutan.
Sejak saat itu, rumahku terasa benar-benar berubah. Kadang aku berpikir, lucu juga. Mulai dari seekor kucing kecil, yang awalnya hanya datang bertamu mencari makan, hingga ia tinggal disini, tetapi kini ramai ditemani Si Kelabu dan tiga anak kecil berbulu berlarian di teras rumah.
Tanpa disadari pula, aku benar-benar telah menjadi pengasuh dari mereka.
Kini aku memindahkan kotak kardus mereka kedalam rumah, ku letakan disudut ruang tamu. Karena, tanpa perlu ada kata-kata aku merasa mereka sudah menjadi bagian dari rumah ini.
Setiap pagi mereka bermain, berlarian dan terkadang tidur di pangkuanku, kehadiran mereka membuat setiap sudut rumah dipenuhi kehangatan.
Saat menjelang sore, ketika matahari mulai tenggelam, seperti kebiasaannya Si Belang duduk di teras menunggu aku pulang dari kerja. Hanya saja kini ia sering ditemani tiga anak kecil yang mungkin penasaran pada ayahnya. Ketika aku mulai membuka pintu pagar dengan segera Si Belang berlari menghampiri. Sesampainya di teras, aku duduk di samping mereka, mengelus satu persatu kepalanya.
“Kamu sudah bukan tamu lagi,” ucapku.
Si Belang mengeong perlahan, seolah mengerti. Kamu sekarang telah menjadi keluarga dirumah ini.

Komentar